sd 2 sai cibinong

Dan kini kaupun menyatakan rasa………

Bismillahirahmanirrohiim…
Kamis lalu lagi-lagi abang Gavan memberi warna dalam hatiku. Saat jam membaca di mana anak-anak mengantri untuk mendapatkan giliran,  Gavan berdiri dan meninggalkan barisannya. Sesuai kesepakatan kelas kami, ini artinya teman yang mengantri di belakang Gavan bisa maju menggantikan posisi Gavan yang sedang mencuri waktu untuk bermain. Tetiba sebuah kegaduhan terjadi. Gavan menangis, ia tak mau posisinya “diselak”. Tangisan Gavan membuat teman-teman malah senang meledek Gavan. Ku dekati ia, ku peluk tubuhnya yang meronta marah dan kesal, ku ingatkan kembali tentang kesepakatan kelas kami.  Ku coba regulasi emosinya (ketika marah dan kesal Gavan tak bisa menyampaikan rasanya secara verbal, dan  ia memilih untuk memukul teman atau merusak barang-barang di sekitarnya). Hampir saja tangan gemuknya memukul teman yang mengambil posisi Gavan. Ku kencangkan pelukanku padanya. kusampaikan bahwa ia boleh marah, ia boleh kesal tapi tidak pukul teman, tidak lukai teman, tidak banting2 dan rusak barang. Ku minta padanya untuk mengeluarkan apa yang ia rasa. Ku minta padanya tuk sampaikan amarah dan kekesalannya.

“Aku marah, aku kesal sama kamu… selama ini aku diam saja kalo kamu ejek aku. sekarang aku tidak akan diam, aku marah sama kamu, aku kesal sama kamu. Jangan pernah kamu ulangi lagi” ucap Gavan sembari melepaskan pelukanku dan menatap wajah sang teman. Ternyata kekesalan dan kemarahan yang selama ini terpendam dan terbendung, pecah. Gavan marah, Gavan sampaikan semua rasa yang selama ini ia tahan.

Gavan menarik nafas sangat dalam, ku rasakan hatinya bergemuruh. Ternyata ada luka yang begitu sembilu dirasakannya selama ini. Namun, kejadian berikutnya lebih membuatku terpana. Di tatapnya sang teman, lalu Gavanpun tersenyum. “Kamu tidak boleh katain aku dan nyelak aku lagi ya, kitakan teman.” ucapnya diiringi senyum khasnya. Aku lega Gavan bisa meluapkan rasanya. Aku lega Gavan tak lagi menyalurkan rasanya pada hal yang keliru. Dulu Gavan hanya bisa diam pasrah atau menangis meraung bila ada yang mengganggunya. dulu Gavan tak berani ungkapkan apa yang dirasanya. Dulu Gavan… ah, sudahlah bang… biarkan itu jadi masa lalumu, dan kini abang  Gavanku telah berubah. Gavan tak lagi takut mengekspresikan rasa, Gavan tak lagi sungkan mengajukan keinginan. Dan…. satu pelajaran berharga baru saja Gavan berikan padaku siang itu, Gavan begitu cepat memaafkan teman yang selama ini mengganggunya, bukan hanya itu, Gavan sudah bisa tersenyum hanya dalam seperrsekian menit dari kemarahannya yang meledak. Darimu ku tahu, memaafkan tak perlu waktu lama dan ditunda, pun terhadap luka yang terpendam lama.
Jum’at ini di kelas ku ada story telling oleh orang tua Gavan. selepas kegiatan story telling kusempatkan ngobrol dengan beliau mengenai kondisi anaknya, Gavan si bocah kelas 2 SD nan lucu dengan tubuh gembulnya yang membuat siapapun orang yang memadangnya ingin memeluk Gavan erat-erat. menurut bu Sri, Gavan sekarang sudah banyak berubah. Gavan sudah bisa cerita tentang sekolahnya, tentang pelajarannya, tentang teman-temannya atau tentang diriku. oh Gavanku… aku terkagum mendengar cerita ibumu.
ku rasakan perubahanmu, Bang. Gavanku kini tak  sering menangis lagi ketika ditinggal teman-temannya, Gavan yang tak terlalu panik lagi ketika belum selesai mengerjakan tugasnya, Gavan yang kini belajar bertahan membela diri ketika “diisengi” oleh teman-temannya, Gavan yang tak meraung-raung ketika makan siang atau snacknya tertinggal, Gavan yang sudah mau bermain dan berbagi dengan teman-temannya, Gavan yang sudah PD menggambar.
Gavan….. mendengar cerita ibumu, seperti ku mendapatkan segelas es kelapa muda di tengah padang gersang.  Semoga dirimmu semakin nyaman dengan sekolahmu kini nak, semoga kau bisa mengekspresikan diri tanpa merasa takut dan panik, semoga kau semakin nyaman bermain dengan teman-temanmu, semoga kau semakin percaya diri dengan kemampuanmu, semoga kau bisa lebih baik dari hari-hari lalumu. Gavanku, ku percaya, sangat percaya bahwa kau mampu dan kau bisa. semoga aku bisa menyaksikan kesuksesanmu, bang….

Rima Aulia

Fasilitator SD 2 SAI Cibinong (2014)

Catatan: Tulisan ini pertama diunggah di Blog Pribadi penulis pada 1/12/2014