english class sai cibinong

Kalau Tahu, Jangan Pelit Memberi Tahu!

Jam pelajaran English tampaknya merupakan jam pelajaran yang dinantikan oleh anak-anak SAI Cibinong. Kadang ketika berpapasan dengan anak-anak di halaman sekolah, ada yang bertanya, “Kapan English, Miss?”. Atau ada yang bersorak kegirangan ketika saya baru saja menginjakkan kaki di kelas. “Yeaaay, English!”. Senang sekali rasanya melihat mereka bergembira belajar Bahasa Inggris (di sekolah, kami menyebut pelajaran Bahasa Inggris sesuai kata aslinya: English), meskipun bahasa asing ini bukanlah bahasa ibu. Saya pikir, salah satu faktor pendukung anak-anak menyukai belajar Bahasa Inggris adalah karena metode pembelajarannya yang menggunakan permainan. Jadi sambil belajar, sambil juga bermain. Misalnya, bermain meniup bola kertas sambil menjawab pertanyaan tentang Bahasa Inggris.

Seringnya, anak-anak bermain bersama kelompok. Di dalam kelompok itu, tentu ada anak yang kemampuan menyerap pelajarannya cepat, ada pula yang butuh waktu lebih lama. Justru di sini letak hikmahnya. Anak-anak yang cepat menangkap pelajaran, bisa dengan mudah menjawab pertanyaan. Namun, dia kan tidak sendirian di dalam kelompok. Ada teman-temannya yang kadang-kadang merasa kesulitan. Bahkan sudah langsung pusing begitu baru mendengar pertanyaan. Bukan berarti mereka tidak pintar. Ada yang memang butuh pengulangan atau latihan beberapa kali, baru pelajaran bisa menempel di otaknya. Namun, ada pula yang sebenarnya mereka mampu, tetapi mereka tidak percaya diri dalam menjawabnya.

Misalnya Iza. Salah satu anak perempuan di SD 3. Kami sedang bermain meniup bola kertas. Mereka harus berlomba mencapai garis finish supaya mendapatkan kesempatan menjawab pertanyaan. Pertanyaannya beragam, tergantung tema pembelajaran saat itu tentang apa. Biasanya saya menunjukkan gambar, kemudian tugas anak-anak adalah menjawab gambar apa itu dalam Bahasa Inggris.

Selesai saya menunjukkan gambar tentang Weather and Season, dia buru-buru bertanya kepada Quinn, teman sekelompoknya. “Eh, itu jawabannya apa?”. Lalu Quinn membisikkan jawabannya ke Iza. “Winter!” jawabnya. Iza pun langsung melesat meniup bola kertas sampai ke garis finish. Dan dia menjadi kelompok pertama yang sampai. Iza segera menjawab, “Allahuakbar! Jawabannya Winter!” (Allahuakbar di sini seperti bel. Menandakan anak-anak telah berhasil mencapai garis finish atau menyelesaikan tantangan permainan). “Okay. Group One got 100!” seru saya sambil menuliskan poin di papan tulis. Kelompok mereka pun akhirnya mendapat poin.

quinn sai cibinong

Atau ada lagi Farid. Dia hampir selalu bisa menjawab pertanyaan dari saya. Namun, dia tidak selalu punya kesempatan untuk menjawab karena memang bukan gilirannya. Farid akan dengan suka rela memberi tahu jawaban kepada temannya yang mendapat giliran bermain. Ini menguntungkan kelompoknya tentu saja. Apalagi jika temannya tidak tahu apa jawabannya. Percuma sampai ke garis finish, tetapi tidak tahu harus menjawab apa.
Saya selalu menetapkan aturan jika ingin membantu teman menjawab, lakukan sebelum mulai aba-aba. Jadi, saya selalu memberikan mereka kesempatan untuk mendiskusikan jawabannya dahulu bersama kelompok.

Setelah waktu habis, mereka bersiap mendengar aba-aba lalu mulai berlomba. Setelah saya menunjukkan gambar, Farid segera memberi tahu jawabannya kepada Faiq, teman sekelompok Farid. Ketika aba-aba dimulai, anak-anak mulai meniup bola kertas. Faiq menjadi anak yang pertama kali sampai ke garis finish. Dia langsung berkata, “Allahuakbar! Stove!” Kelompok mereka pun berhasil memperoleh poin.

Permainan dalam pelajaran English tidak selalu mengenai speaking. Ada empat kemampuan (skill) yang dipelajari, yaitu speaking (berbicara), listening (menyimak), reading (membaca), dan writing (menulis). Tidak semua anak menguasai keempat kemampuan tersebut. Contohnya adalah Muaffa. Muaffa masih belum lancar dalam menulis dan membaca. Teman sekelompoknya, Fari, tidak segan-segan membantu mengejakan huruf dari suatu kata ke Muaffa. “S – U – M – M – E – R,” katanya. Kemudian Muaffa menuliskan huruf-huruf tersebut di buku tulisnya sehingga Muaffa berhasil memberian poin untuk kelompoknya.

Permainan yang dilakukan dengan cara berkelompok memberikan banyak manfaat. Anak-anak belajar bekerja sama dan berbagi. Kalau bekerja sama, kita semua tahu kerja sama merupakan hal yang pasti diperlukan dalam kelompok. Kelompok tidak akan meraih kemenangan tanpa kerja sama tim yang baik.

Selain itu, di dalam permainan, anak-anak juga belajar berbagi. Ya, berbagi ilmu. Jika mereka ingin kelompoknya menjadi pemenang pertama, tentu harus meraih poin terbanyak. Bagaimana bisa mendapat poin terbanyak? Mereka harus bisa sampai ke garis finish paling cepat dibandingkan kelompok lain. Sampai di garis pun, dia harus bisa menjawab pertanyaan dengan benar. Anak-anak yang sudah lebih tahu kosa kata Bahasa Inggris harus membagi ilmunya kepada temannya yang belum tahu. Dengan begitu, temannya pun, yang tadinya tidak tahu, jadi bertambah kosa katanya. Di sini terjadi transfer ilmu.

Di dalam permainan juga diajarkan rasa saling percaya. Saya pernah melihat suatu video di internet, ada anak yang pintar. Kemudian, dilakukan suatu percobaan di mana si anak dikelompokkan dengan teman-teman sebayanya. Dia merasa paling pintar di kelompok tersebut. Ketika menjawab pertanyaan, hampir selalu dia yang dapat menjawabnya. Suatu kali, dia tidak bisa menjawab pertanyaan Matematika, tetapi temannya tahu. Temannya itu membisikkan jawaban yang benar, tetapi ia tidak percaya. Dia hanya yakin pada dirinya sendiri sehingga kalah dari kelompok lain.

Anak ini melihat kelompok lawannya memiliki kerja samanya yang baik. Mereka saling berdiskusi sebelum menjawab pertanyaan. Tidak seperti di kelompoknya sendiri, di mana sang anak merasa sombong karena merasa lebih pintar dibandingkan teman-temannya. Walhasil, dia hanya percaya pada kemampuannya tanpa mau mendiskusikan bersama jawabannya. Dia menganggap teman-temannya tidak sepintar dia, jadi jawabannya pasti tidak benar.

Akhirnya dia menyadari, bahwa meskipun dia pintar, dia tidak selalu bisa menjawab soal tantangan. Dan teman-teman sekelompoknya bukan berarti selalu tidak tahu jawabannya. Yang ia butuhkan adalah percaya bahwa temannya juga bisa menjawab dengan benar. Temannya juga ikhlas membantu berbagi ilmu, memberitahukan jawaban yang benar jika mereka tahu. Tidak seperti dirinya.

Dari kejadian-kejadian yang muncul ketika bermain dan belajar Bahasa Inggris, saya pun mengambil pelajaran bahwa anak-anak (dan juga kita, termasuk saya), perlu punya hati yang lapang. Menyadari jika teman ada yang tidak bisa, maka perlu dibantu. Membagikan ilmu yang dipunyai. Jangan menjadi orang yang pelit, padahal tahu. Siapa tahu, teman kita jadi paham pelajaran karena bantuan kita. Kita pun menjadi mendapatkan kebaikan dan pahala di dalamnya karena membantu teman menjadi lebih paham. Kerja sama dan berbagi ilmu itu perlu, asal tidak dalam konteks keburukan. Misalnya, memberi tahu jawaban ke teman ketika sedang ujian. Itu yang justru tidak boleh.

 

Rila Anggraeni

English Teacher – Sekolah Alam Indonesia Cibinong