gavan sai cibinong

Empati dan Pilihan

Catatan: Tulisan ini pertama diunggah di laman media sosial penulis pada tahun 2018

Saat istirahat pagi, kulihat Dido dan abangnya duduk di bangku kayu, di bawah rumah pohon. Mereka duduk berhadapan. Muka abang tampak sedih dan air matanya mengambang di matanya. Hmmm…. sesuatu sedang terjadi rupanya.
Aku berjalan mendekati Dido dan abang. Terdengar Dido berkata,”Ayolah bang. Abang.jangan nangis. Ayo lari.” Sang abang tetap tak bergeming, air matanya masih mengambang di matanya. Dido berkata lagi,”Abang mau lari 10 atau 100 kali?” Sang abang tetap duduk dan terdiam. Kemudian Dido berkata,”Ya udah deh. Aku ke kelas aja. Terserah abang aja.”
Dido meninggalkan abangnya duduk di bangku dan pergi ke kelas. Aku sekarang yang duduk di sebelah abang. Kami berbicara dan berusaha untuk membantu abang mencari solusi dari masalah yang dihadapinya.
Siang hari, salah seorang guru bercerita,”Tadi tuh bu, Dido bilang sama abang,’Ayolah … bang. Jangan nangis bang. Abang mau aku temenin? Yuk, aku temenin lari. Abang mau aku temenin lari?.”
Aku terpana mendengar cerita bu guru tersebut. Aahh so sweet banget Dido.
Sore hari, aku bertemu dengan Dido dan menyempatkan diri untuk klarifikasi. Aku bertanya,”Do, kok tadi kasih pilihan larinya banyak banget. 10 sama 100 kan jauh banget jaraknya.” Jawaban Dido membuat aku terpana.
Dido dengan tenangnya berkata,” Ibu, itu kan pilihan.”
3 hal yang aku ambil dari peristiwa dan percakapan Dido hari ini.
Pertama : empati
Dido dengan rasa empati mendekati dan menghibur abangnya. Subhanallah, Dido mencoba menawarkan bantuan terhadap abangnya. Dido bersedia menemani abangnya berlari.
Empati yang besar ditunjukan oleh Dido. Rasa bangga dan haru timbul di hati saya. Rasanya luar biasa mendengar Dido melakukan hal tersebut. Biasanya Dido agak cuek. Dia biasanya hanya melihat sebentar kemudian berlalu. Namun ternyata hari ini, Dido duduk menemani abangnya sejenak. Berusaha membujuk sang abang agar menuntaskan tugasnya. Ia begitu peduli dengan sang abang.
Kedua : regulasi emosi
Dido berusaha meregulasi emosi abangnya. Ia berusaha membujuk abangnya, meredakan emosi yang ada pada abangnya. Dengan caranya, Dido berusaha meredakan rasa sedih yang sedang melanda sang abang. Belum berhasil, tapi ia mencoba.
Ketiga : membuat pilihan
Pilihan yang dibuat Dido, walaupun perbandingan yang sangat jauh, namun tetap memberikan suatu pilihan. Dido belajar dari guru-guru yang selalu memberikan pilihan-pilihan saat ia memerlukan bantuan dalam mencari solusi.
Dido banyak belajar di sekolah. Ia meniru bagaimana guru-guru di sekolah membantu murid-murid menyelesaikan masalah. Dido dengan caranya berusaha membantu sang abang menyelesaikan masalah. Semoga Dido kelak semakin pandai membantu diri dan orang lain mencari solusi dari banyak hal.
Aamiin

Dian Arifianti
Guru Kelas SD 5 Sekolah SAI Cibinong (2017- 2018)