Cerita Perjalanan Ujung Kulon (Cerita 1): “Ibu pernah lihat …?”

Naik gunung, susur pantai bukan cuma butuh fisik yang kuat. Tapi mental baja dan kemauan yang kuat akan sangat mendukung fisik yang kuat. Fisik yang kuat tanpa mental baja akan menjadi sia-sia adanya.

Ujung Kulon adalah medan yang luar biasa untuk menguji semua itu. Trekking Cibom – Ciramea – Tanjung Layar akan sangat menguras energi dan tenaga. Kira-kira berjarak 8 Km dengan rute yang naik turun dan bukan jalan mulus. Kalau istilah saya, rutenya cihui.

Cheff Berbakat kami bertubuh besar. Udah dipersiapkan ya bang sama Allah untuk jadi Cheff terkenal. Postur badan sudah mendukung. Saya tau bukan trekking yang mudah untuk Cheff Berbakat kami. Tapi memang kegiatan ini harus dilalui.

Sejak awal kami sudah memberikan gambaran trekking yang akan dijalani. Cheff berbakat kami terlihat cemas. Kami bukan tak sadar atau tak melihatnya. Tapi coba kami tenangkan dan alihkan perhatiannya untuk trekking tersebut.

Trekking rute Cibom – Ciramea – Tanjung Layar dilakukan pada hari ke 3 outing. Pagi-pagi semua sudah bersiap-siap tidak terkecuali Cheff Berbakat kami. Rasa cemas masih membayang di wajahnya.
“Tenang aja, bang. Abang pasti bisa. Abang pasti kuat.”
Kami berusaha memberikan motivasi kepada Cheff Berbakat kami.

sd5 outing ke ujung kulon

Saya tidak ikut trekking karena harus menjaga murid kami yang baru sembuh sakit. Sedih juga sebenarnya. Tapi sudahlah, semua punya tugas masing-masing.

Secara intuisi saya merasa kemungkinan ada sedikit rengekan dari Cheff Berbakat kami. Tapi saya yakin, tim guru yang solid akan support dengan baik. Ada bapak kelas yang jadi leadernya. Beliau sabar dan bisa memotivasi dengan baik. Ibu Suster Kepala juga luar biasa sabar dan baik hati. Juga guru pendamping dan fotografer kami. Saya tinggal banyak-banyak berdoa.

Saat rombongan berangkat, hmm ada yang hilang dari hati. Padahal udah tau ya, udah nyiapin diri juga. Tapi tetap ga bisa bohong, ada rasa sedih dan kehilangan. Tetap berusaha tegar dan senyum di depan anak-anak. Saya dan yang tinggal melepas dari dermaga sambil melambaikan tangan. Iiih seperti apaaa gitu ….

Rasanya waktu berjalan lambat. Lama sepertinya jarum jam bergerak. Setelah murid saya bangun dari tidurnya, kami berdua menyusuri pantai pulau Peucang. Tidak terlalu jauh, supaya anak kami tidak terlalu letih.

Terus terang, saya tidak terlalu tenang. Sekitar jam 13.30 terdengar suara ramai. Aaah ternyata mereka sudah kembali. Saya menyambut dengan senyum sumrigah. Bak menyambut pahlawan dari medan juang. Tapi bener juga sih kalau dipikir-pikir. Mereka kan baru berjuang menaklukan medan yang luar biasa. Saya lega luar biasa melihat semua guru dan murid lengkap. Termasuk fotografer kami, walaupun kakinya keseleo.

Setelah semua istirahat, segera saya bertanya,”Semua baik-baik aja? Abang gimana? Abang kuat?”
Saya tidak bisa menyembunyikan cemas yang sejak tadi saya tahan. Betul saya risau, merasa bersalah tidak bisa total mendampingi anak-anak. Saya memang agak khawatir dengan Cheff Berbakat kami. Saya khawatir Cheff Berbakat kami harus tertatih-tatih menjalaninya.

Ibu Suster Kepala cerita, bahwa ada juga bagian ibu Suster Kepala berbicara sangat tegas kepada Cheff Berbakat kami. Syukur alhamdulillah semua bisa dilalui walau dengan tertatih dan banyak motivasi dari para pendamping.

Hari berikut kami kembali trekking. Sore hari, kami berangkat. Kali ini dari penginapan ke Karang Copong, di pulau Peucang. Jarak tempuh 3 Km, jadi pulang pergi 6 Km. Lumayanlah. Waktu yang dibutuhkan kira-kira 3 jam.

Saya memastikan diri ikut untuk damping Cheff Berbakat kami. Sebelum pergi, wajah cemas sudah menghiasi Cheff Berbakat kami. Kami terus memotivasi. Sebenarnya Cheff Berbakat tidak terlalu suka berjalan dekat saya. Karena saya akan dengan tegas membuatnya terus berjalan. Hehehe… Maaf ya bang!

Perjalanan dimulai dengan membaca basmalah. Saat sudah cukup lama berjalan, Cheff Berbakat kami mulai merasa letih. Terdengar juga sedikit keluhnya. Ia ingin minum, haus. Kami berhenti sejenak, kemudian kembali berjalan.

Alhamdulillah tsuma alhamdulillah Cheff Berbakat kami sampai di Karang Copong tanpa keluhan berarti. Saya cuma bilang,”Ini rutenya lebih deket dari kemarin, bang. Kalau kemarin abang bisa, ini lebih bisa lagi. Abang bisa kok. Kan abang badannya besar, pasti kuat deh.” Kami tidak lama di Karang Copong. Istirahat sebentar, foto-foto kemudian kembali.

sd5 trekking di ujung kulon

 

Perjalanan pulang melalui rute yang sama. Hanya kali ini malam mulai turun perlahan. Kegelapan mulai menyapa dan menemani kami. Saya kembali berjalan di dekat Cheff Berbakat kami untuk memastikan he is ok.

Entah siapa yang memulai dan bagaimana awalnya, Cheff Berbakat kami mulai bercerita. Seingat saya, pertanyaan pertama beliau adalah,”Ibu tau ga acara Uang Kaget?”
“Emang acara apa sih, itu?”
Saya lupa pernah melihat acara ini. Cheff Berbakat kami cerita panjang lebar tentang acara tersebut. Setelah cerita itu, bergulir cerita yang lain. Sepanjang jalan Cheff Berbakat kami terus bercerita. Sambil berjalan dan bercerita, sesekali Cheff Berbakat kami memegang jemari saya. Jadi terharu. Tanpa sadar kami sudah mendekati penginapan.
“Wah Bang, udah keliatan tuh penginapannya.”
“Eh iya, udah sampe. Aku boleh jalan duluan ya.”
“Iya. Abang hebat banget. Makasih ya bang udah ikut kegiatan ini dengan baik.”

Alhamdulillah tsuma alhamdulillah. Kekuatan itu memang hanya milik Allah. Hanya kepadaNya kami meminta kekuatan dan pertolongan.
Allah beri kami semua kekuatan sehingga kami bisa melaksanakannya. Terutama pada Cheff Berbakat kami. Syukur tak habis kami panjatkan.

Saat malam, ketika evaluasi akhir, tiba-tiba Cheff Berbakat kami berkata,”Bu Deasy terima kasih ya udah nemenin aku di Ujung Kulon.”
Huaaah ibu Suster Kepala langsung jadi mellow. Saya yang denger aja langsung huaah mellow abiiiss. Kayaknya semua guru langsung berkaca-kaca.
Ya Allah, Cheff Berbakat kami sungguh so sweet.
Terima kasih kembali abang untuk perjuangannya melakukan ini semua.
Proud of you Abang.

#sepenggalcerita#
#outinguk#
#cintatakbertepi#
#sd5pengungkit#
#saicibinong#

 

Dian Arifianti

Guru Kelas SD 5 Pengungkit

Sekolah Alam Indonesia Cibinong