sd 5 sai Cibinong ke ujung kulon

Cerita Perjalanan Ujung Kulon (Cerita 3): “Boleh Aku Aja Yang Bersihin?”

Cerita yang saya tulis mengingat sebenarnya saya tak tega melakukannya, tapi harus tetap dilakukan. Salah seorang anak kami di SD 5 Pengungkit, luar biasa baik hati dan lembut. Untuk seorang anak laki-laki, ia betul-betul berhati lembut. Semoga terus melekat pada dirimu ya anak sholeh, sehingga saat kamu menjadi pemimpin, kamu seperti Abu Bakar Ash Shidiq. Amirul mukminin yang berhati lembut tapi dengan tegas memerangi kemungkaran. Doa kami selalu terlantun untukmu, nak!
Hari pertama saat tiba di Ujung Kulon, kita sedang beristirahat di rumah Kapten Komodo setelah menempuh perjalanan kira-kira selama 9 jam. Kita semua melepas lelah dengan beristirahat. Dan peristiwa ini terjadi saat kita sedang beristirahat sebelum mekakukan kegiatan berikutnya.

Ibu Suster Kepala, menghampiri saya, sambil berkata,”Bu, ada keadaan darurat nih.”
“Apa yang darurat? Kok aku baru tau. Bapak kelasnya udah tau belum?”
“Belum, bu. Aku juga baru lihat soalnya.”
“Kenapa sih? Terkait anak-anak?”
Hohoho kepala saya langsung berisi berbagai hal tentang anak. Hmm…. Ga bisa bohong juga ada menyelusup sedikit rasa tak enak di hati. Ada apa nih?
“Ibu merhatiin Aa, ga?”
“Ga. Emang Aa kenapa? Bukannya Aa baik – baik aja?”
“Iya, Aa sih baik-baik aja. Cuma kaki dan tangannya Aa ada beberapa luka.”
“Lhoo, kok kita ga tau ya. Besar ga? Di mana lukanya?”
“Aku juga baru tau bu pas liat kaki dan tangan Aa tadi. Lukanya sih kecil. Kayak bekas gigitan nyamuk. Cuma ada yang bernanah. Aku khawatir nanti mengganggu aktivitas Aa.”
“Udah ngobrol sama Aanya kalau itu harus dibersihkan?”
“Udah. Cuma Aa kayaknya ga mau kalau aku yang bersihin lukanya.”
“O, gitu. Dirimu berani ga bersihin lukanya. Bukan berani sih, tega maksudnya.”
Ibu Suster Kepala langsung nyengir.
“Ok, kalau gitu panggil anaknya. Sini aku yang bersihin.”
Ibu Suster Kepala segera memanggil anak sholeh kami yang lembut hati. Tak lama beliau muncul bersama anak tersebut. Kami duduk berhadapan.
“Aa kata bu Deasy, tangan dan kakinya ada luka ya. Aku lihat dulu ya. Kalau memang harus dibersihkan, aku bersihin ya.”
Aa memperlihatkan luka di tangan dan kakinya. Bukan luka besar, tapi ada nanahnya. Kalau tidak dibersihkan bisa sakit dan melebar. Luka Aa kecil, tapi ada kantong nanah sedikit di pinggirnya. Tidak ada cara lain kecuali dibersihkan.
“Aa, ini harus dibersihkan. Kalau ga nanti tambah sakit dan bisa melebar. Aku tau pasti ada rasa sakit. Tapi tetap harus dibersihkan. Maaf ya, Aa. Kalau mau nangis boleh kok.”
“Iya, aku tau harus dibersihin dan diobati. Tapi boleh ga aku yang bersihin dan ngobatin sendiri.”
Ibu Suster Kepala mengalihkan pandangannya kepada saya. Kami tidak menyangka bahwa murid kami akan bertanya seperti itu.
“Hmm… untuk yang kali ini, biar aku dulu yang bersihin ya. Supaya lukanya betul-betul bisa bersih dan sembuh. Maaf ya Aa, sekarang aku ya yang bersihin dulu.”
Anak sholeh kami yang lembut hati pun menganggukkan kepalanya.
Ibu Suster Kepala mempersiapkan semuanya. Kemudian saya yang mengobati lukanya. Kalau menurut istilah saya, diseset dulu sampai bersih baru dikasih obat. Saya tau sakit. Tak lama saat saya bersihkan, mata anak sholeh kami yang lembut hati sudah berkaca-kaca. Tangisnya pelan tertahan, hanya aliran hangat yang membasahi pipinya menandakan ia menahan sakit. Saya sebenernya tidak tega, tapi harus dibersihkan supaya tidak lebih infeksi. Ibu Suster Kepala terus menghibur dan menyemangati anak sholeh kami yang lembut hati. Kalau ada cara lain yang lebih tidak sakit, pasti akan kami lakukan. Tapi satu-satunya cara memang harus diseset dan nanahnya dibersihkan. Lumayan ada 3 luka di kaki dan 3 luka di tangan. Beberapa menit kemudian semuanya selesai. Anak sholeh kami yang lembut hati, bisa menahan rasa sakit tanpa berteriak-teriak atau pun mengeluarkan kata-kata tidak baik. Perjuangan yang harus dilaluinya. Sakit yang harus dialaminya supaya menjadi lebih baik. Maaf ya, nak.
“Nanti dibersihkan lagi ya,bu?”
“Iya, tapi nanti sore aja setelah Aa mandi ya. Sekarang Aa istirahat aja dulu.”
“Iya bu. Aku istirahat dulu ya. Masih terasa sakitnya.”
“Maaf ya Aa.”
“I,ya. Gak papa kok bu. Aku tau kok ini harus dibersihkan.”
Sore hari ibu Suster Kepala menemui aku.
“Ibu, tau ga tadi aku nawarin untuk bersihin lukanya Aa yang tadi. Tapi Aa ga mau.”
“Lho kenapa?”
“Kata Aa,’Sama bu Pipin aja bersihinnya bu Deasy. Kalau sama bu Pipin aku sudah tau seberapa sakitnya.’”
Kami pun tertawa. Aaah luar biasa anak sholeh kami yang lembut hati. Dalam waktu singkat ia sudah bisa menakar rasa sakit dan bagaimana mengatasinya.
Sore setelah mandi, saya pun membersihkan luka di kaki dan tangan anak sholeh kami yang lembut hati.
“Udah bu? Cuma gini aja? Ga diseset kayak tadi siang?”
“Ga. Kan udah ga ada nanah di tengah dan di pinggir luka. Jadi tinggal dibersihin aja supaya lukanya cepat sembuh.”
“Ooo aku kira kayak tadi siang lagi. Aku udah siap – siap soalnya.”
Kami pun tertawa bersama.
Tetaplah ingatkan kami, nak sholeh yang lembut hati untuk selalu menjagamu dan teman-temanmu dengan segala kelembutan dan cinta yang kami punya. Untuk tetap memberikan yang terbaik bagi kalian sehingga kalian tumbuh sebagai diri kalian sendiri, sebagai hamba Allah yang bertakwa dan kelak bermanfaat bagi umat ini. Aamiin YRA.

#sepenggalcerita#
#outinguk#
#cintatakbertepi#
#sd5pengungkit#
#saicibinong#

 

Dian Arifianti

Guru Kelas SD 5 Pengungkit

Sekolah Alam Indonesia Cibinong