dido sai cibinong

Selalu Ada Cara Untuk Belajar

Catatan: Tulisan ini pertama diunggah di laman media sosial penulis pada tahun 2015
Tiga tahun yang lalu, kami mendapat telepon dari seorang ibu. Beliau menanyakan apakah SAI Cibinong menerima ABK (Anak Berkebutuhan Khusus). Kami menyatakan iya dan kuotanya masih ada. Ketika tahu di mana ibu ini tinggal, saya sangat terkejut. Mereka tinggal di Rantau Prapat, sekian jam dari Medan.
Masya Allah, luar biasa perjuangan orang tua ini. Menurut  ibunya, beliau curiga dengan anak bungsunya karena belum hafal angka atau huruf latin dan hijaiyah padahal usianya sudah mencapai 4 tahun. Abangnya saat usia itu sudah hafal semua. Berlandaskan hal tersebut, kedua orang tua ini membawa anaknya ke psikolog. Hasil test psikolognya keluar, anak bungsu mereka termasuk slow learner  dengan kemampuan visualnya di atas rata-rata.

Saat kedua orang tua yang luar biasa ini datang ke SAI Cibinong dan bertemu saya, kami berdiskusi cukup panjang. Berdiskusi kemungkinan yang mungkin kami fasilitasi dan komitmen orang tua untuk mensupport.

Saya ingat ketika itu saya berkata,”Kita terima saja ya bu, hasil tes psikologinya. Memang itu yang Allah kasih untuk Dido. Saya juga tidak bisa menjanjikan apa-apa. Tapi kami coba memberikan yang terbaik yang bisa kami berikan. Kita ga usah mikirin hasil tes psikologinya. Kita berusaha saja untuk Dido.”
Saat sit in, bu Sri bersama kedua anak laki-lakinya harus tinggal sementara di Beji Depok. Selama 5 hari dengan naik angkot, mereka melaju dari Beji ke Cibinong. Perjuangan yang luar biasa.

Dido si bungsu, masuk kelas TK B SAI Cibinong. Anak yang membuat semua orang langsung jatuh hati. Dido memiliki raut wajah yang sangat menggemaskan.
Tahun pertama di TK B, program pertama Dido adalah menghafal semua nama teman dan guru kelas. Waktu itu teman Dido ada 4 orang. Setiap hari sang ibu di rumah dan kami di sekolah menanyakan siapa saja nama temannya. Alhamdulillah target kami selama 1 semester bisa dicapai dalam 2 bulan. Alhamdulillah.

Akhir semester 2, Dido membandingkan kemampuan dirinya dalam menghafal huruf dengan salah satu temannya. Saya sangat terkejut. Secepat itu Dido bisa membandingkan. Saya sangat khawatir. Khawatir jika hal tersebut melukai harga dirinya, membuatnya terpukul. Maka saya meminta pak IIlham, guru kelas Dido saat itu, untuk selalu memberi semangat ke Dido  dan memberi pengertian bahwa kemampuan orang berbeda-beda. Alhamdulillah tsuma alhamdulillah TK B bisa dilalui Dido dengan baik.

Tahun kedua, Dido kelas 1. Seperti tingkat Sekolah Dasar pada umumnya, kognitif sudah mulai diberikan. Perjuangan Dido untuk belajar semakin menantang.  Kesulitan yang dihadapinya terkadang membuatnya menangis. Sedih rasanya saat melihat Dido menangis, sesuatu yang diluar kuasa kami. Orang tua Dido dan kami para guru selalu berusaha membantu.
Guru Kelas 1 Dido, Bu Okta dan Pak Hendi mendisplay angka 0-9 dan seluruh huruf abjad. Orang tua Dido membuatkan kartu angka dan papan huruf untuk dibawa-bawa. Kelas 1 dilalui Dido dengan kerja keras yang luar biasa dan diakhiri dengan hafalnya angka 0-9. Pencapaian yang luar biasa.

Dido sudah bisa baca? Belum. Tapi itu tidak membuat saya khawatir. Kami tetap berusaha. Saya yakin, saat itu akan tiba. Kami hanya perlu bersabar menanti saat itu tiba.
Tahun ke 3 di SAI Cibinong. Dido sudah kelas 2. Pelajaran semakin menantang. Saat matematika menjumlah dengan menyimpan, bu Rima, saya, bu Wilda dan orang tua Dido betul-betul mengerahkan semua kemampuan kami untuk mrmbantunya belajar. Kadang tangisnya masih keluar, tapi sudah sangat jarang. Pencapaian Dido yang pertama di kelas 2 adalah menulisnya sudah lebih cepat. Dido memang belum bisa membaca, tapi bisa menyalin dengan cepat. Pencapaian yang membuat kami, guru dan orang tua Dido, sangat gembira. Kemampuan visualnya sudah mulai terlihat.
Pencapaian berikutnya adalah Dido mulai paham konsep penjumlahan dengan menyimpan. Orang tua Dido, sangat membantu dengan memgulang di rumah, membuat alat bantu seperti di sekolah, kertas puluhan satuan. Sungguh luar biasa!

Hari Rabu, 9 Desember 2015, keajaiban itu terjadi. Bu Rima sedang menemani Dido UAS. Dido menghitung soal hitungan campur dengan menyimpan, tanpa menggunakan alat bantu dan kertas coret-coretan. Dido menghitung dengan cepat dan benar. Masya Allah …..
Pencapaian yang sungguh luar biasa.

Saya tersadarkan, bahwa kekuatan visual Dido membantunya untuk belajar, melalui proses yang panjang. Dido selalu menggunakan alat bantu untuk melakukan konsep menjumlah dengan menyimpan. Pertanyaan saya terjawab. Saat melihat hasil tes psikologinya, saya heran kok kemampuan visualnya di atas rata-rata. Bagaimana kekuatan ini bisa membantu Dido belajar? Allahu Akbar … terjawab sebagian kecil rahasia Allah.

Saya bisa bayangkan mungkin ada rasa lelah, sedih, penat, yang mendera saat kedua orang tua Dido membantunya belajar di rumah. Tapi apakah mereka menyerah? TIDAK! Orang tua Dido terus berjuang, mendampingi putranya menghadapi tantangan.

Allah memberikan kami hikmah yang besar melalui Dido. Tugas kami hanyalah berusaha sekuat tenaga, urusan hasil ? Itu mutlak  hak prerogratif Allah.
Saya tidak habis bersyukur bahwa Allah memberikan kami seorang Dido, yang darinyalah kami banyak belajar.
TIDAK ADA PRODUK GAGAL YANG ALLAH CIPTAKAN. KEMAMPUAN KITA SEBAGAI MANUSIA TERBATAS SEHINGGA PERLU BERUSAHA DAN BERSABAR UNTUK MENEMUKAN MAKSUD PENCIPTAAN ALLAH TERSEBUT.
MANUSIA DICIPTAKAN ALLAH DALAM BENTUK YANG PALING SEMPURNA.

Dian Arifianti
Kepala Sekolah SAI Cibinong (2012-2017)