panen pokcoy sd 1

BERTANI HIDROPONIK UNTUK PEMASUKAN KAS KELAS SD 1

Dini Daruati

OTS Meilita SAI Cibinong

Wah iuran kas ikut naik juga ni kalau anaknya naik kelas” ujar salah satu OTS pada obrolan siang itu. Kalimat itu terngiang ngiang di kepala saya. SD 1 harus punya usaha apa ya yang bisa berkelanjutan sampai naik ke kelas berikutnya, untuk mendukung pemasukan kas kelas sekaligus untuk media pembelajaran?. Akhirnya setelah melalui diskusi OTS SD 1, disetujui untuk bertani hidroponik. Modalnya diambil dari uang kas, sekitar Rp 1.500.000 untuk pembuatan instalasi hidroponik yang dilakukan secara gotong royong oleh OTS SD 1 dengan dipandu oleh teman saya, seorang praktisi hidroponik.

kerjabakti buat hidroponik
Foto 1. Kerjabakti Pembuatan Rak Hidroponik oleh OTS SD 1

Apa sih yang bisa dipelajari anak-anak dari bertani hidroponik ini? Pertama, anak bisa belajar untuk memanfaatkan lahan yang terbatas untuk memenuhi kebutuhan pangan sendiri bahkan untuk sumber penghasilan. Kedua, anak bisa belajar tentang siklus hidup tumbuhan mulai dari biji sampai panen. Ketiga, anak bisa belajar tentang ketekunan merawat tanaman hingga bisa panen melimpah. Keempat, belajar kegagalan juga bila tanaman tidak tumbuh sesuai yang diharapkan dan gagal panen. Kelima, anak belajar menimbang dan pengemasan sayuran serta pemasaran.

Hidroponik adalah budidaya menanam dengan memanfaatkan air tanpa menggunakan tanah dengan menekankan pada pemenuhan kebutuhan nutrisi bagi tanaman. Kebutuhan air pada hidroponik lebih sedikit daripada kebutuhan air pada budidaya dengan tanah. Hidroponik menggunakan air yang lebih efisien, jadi cocok diterapkan pada daerah yang memiliki pasokan air yang terbatas (Wikipedia). Selain penggunaan air yang efisien, hdiroponik juga cocok untuk lahan yang terbatas. Penggunaan listrik untuk pengaliran air bernutrisi juga cukup murah karena bisa memakai timer yang diatur, pompa hidup hanya 8 jam sehari. Untuk pompa 60 watt dalam sebulan listrik yang diperlukan sekitar 18 KWH (Rp 27.000). Terimakasih kepada pihak sekolah yang telah mendukung program ini. Pemilihan lokasi harus memperhatikan tercukupinya sinar matahari langsung minimal 5 jam/hari, tetapi tidak boleh terkena air hujan agar nutrisinya tidak hanyut,maka harus memakai atap transparan.

Sayuran yang dipilih pertama kali dalam bertani hidroponik ini adalah pokcoy karena menurut sumber bacaan di internet cukup mudah untuk pemula. Langkah pertama adalah penyemaian biji pokcoy ke media rockwool yang sudah dibasahi. Tiap 1 kotak rockwool dilubangi sedikit, diisi 2 biji pokcoy. Lidi basah dipakai untuk mempermudah. 

semai pokcoy di rockwool
Foto 2. Penyemaian biji pokcoy ke media rockwool

Setelah itu kemudian ditutupi dengan tas kresek warna hitam.Tiap hari dilakukan pengamatan. Apabila biji udah kelihatan putih dan pecah semua maka harus dibuka penutupnya dan ditaruh di tempat yang tidak terkena matahari langsung tetapi terang.

bibit pokcoy
Foto 3. Bibit pokcoy umur 7 hari dan berdaun 2-3, siap dipindah ke netpott
pokcoy ke netpott
Foto 4. Proses pemindahan ke netpott yang diberi sumbu kain flanel dan dipasang ke rak hidroponik

Proses pemindahan bibit pokcoy ke rak hidroponik perlu kehati-hatian karena bibit masih sangat mudah rusak. Penyobekan rockwool dibantu OTS sedangkan pemasangan kain flanel ke netpot bisa dilakukan sendiri oleh siswa. Setelah ini adalah tahap perawatan, yaitu memantau kandungan nutrisi dan memantau banyaknya air di ember. Pemantauan nutrisi memakai alat TDS meter. Untuk pokcoy optimal di sekitar 1400 ppm. Rencananya mau dilakukan percobaan menggunakan nutrisi buatan sendiri dari fermentasi daun kering. Untuk sekarang ini masih menggunakan pupuk khusus hidroponik AB mix. Anak anak pagi sebelum masuk kelas ikut mengecek air yang ada di ember dan juga mengecek apakah ada hama atau tidak. Biasanya air perlu ditambahkan tiap tiga hari sekali karena adanya penguapan dan kebocoran kecil pada sambungan pipa.

Setelah 35 hari, panen pun tiba. Alhamdulillah panen raya untuk panen pertama ini. Dihasilkan 6 kg pokcoy yang dikemas per 250 g yang dijual Rp 10.000. Dalam sekejap pokcoy diborong oleh OTS SAI Cibi dan menambah pemasukan kas SD 1.

panen pokcoy
Foto 5. Panen Pokcoy

Hasil panen kemudian dibawa ke kelas. Anak-anak diajari menimbang dan mengemas agar menarik. Plastik kemasan ditempelin dahulu dengan stiker Sekolah Alam Indonesia dan label Hidroponik Organik SD 1. Selotip pengikatnya juga khusus ada label fresh vegetable agar lebih menarik.

mengemas pokcoy
Foto 6. Menimbang dan Mengemas Pokcoy

Pada penanaman kedua adalah bayam merah. Tahapannya hampir sama dengan pokcoy tetapi umurnya lebih singkat, Cuma sekitar 25 hari sudah bisa panen. Kendalanya adalah biji yang ditanam tidak semuanya tumbuh karena kualitas biji bayam yang kurang bagus sehingga mempengaruhi hasil panen. Pada panen bayam merah ini didapatkan 1, 75 kg yang dijual Rp 10.000 per 250 g. Pada panen kali ini tidak melibatkan anak-anak karena adanya OTFA dan apabila ditunda setelah OTFA dan libur, bayam akan terlalu tua. Bayam merah dijual kepada OTS yang menjemput kepulangan OTFA kelas kecil.

bayam merah dikemas
Foto 7. Kemasan Bayam Merah yang Dijual