tata sai cibinong

Belajar Mengikhlaskan

Dini Daruati

OTS Meilita Akila Prabawaningrum, Sekolah Alam Indonesia Cibinong

 

“Hai Lumba, mau enggak kamu kuajak ke Jogja?” Tanya Tata pada boneka lumba-lumba warna pink berpita hadiah dari Keyhara teman sekelasnya saat ulang tahun. “Mah boleh enggak aku bawa lumba ke Jogja, soalnya dia kasihan kalau ditinggal di rumah” rajuk Tata saat kami siap siap mau mudik lebaran. “Boleh saja asal Tata yang pegang terus ya, itu tanggungjawab Tata, jawab saya. “Hore….. Lumba mau naik pesawat….kamu siap Lumba?” Teriak Tata kegirangan.
Tata belum pernah sedekat itu dengan boneka boneka lainnya. Walaupun dari kecil banyak sekali yang memberikan boneka atau bahkan memilih sendiri di toko, cuma dimainkan sebentar lalu teronggok di lemari atau di rak. Lain halnya dengan si “Lumba” ,sejak diberikan di hari ultahnya yang ke 6 oleh Keyhara, selalu diajak kemana saja dia pergi. Tidurpun selalu dibaringkan di sampingnya. Mungkin karena bentuknya memang lucu dan hadiah dari sahabat karibnya dari TK A sampai TK B.
Di Jogja Tata selalu mengajak Lumba bercerita sehabis dia jalan-jalan. Selain lumba, ada si Kura yang juga diajak, ditambah si Dino hadiah dari pesawat. Jadi ada tiga murid yang Tata punya. Kalau muridnya ditinggal pergi, biar nggak rewel, katanya Lumba disuruh menjaga Kura, dan kura menjaga Dino, sesuai urutan dari yang ukurannya terbesar sampai terkecil. Saya terkesiap juga dengan caranya…..hihi metodenya oke juga tuh.
Liburan di rumah eyang di Jogja telah usai, saatnya kembali ke Cibinong. Lumba diajak ke kabin pesawat dengan tidak lupa dimasukkan ke mesin X-Ray terlebih dahulu. “Lumba kamu tidak takut kan masuk ke situ?” tanya Tata. Selama take off dan landing, Tata selalu memeluk Lumba erat-erat, kadang kepala Lumba didekatkan ke jendela sambil ditunjukkan awan atau pemandangan di bawah.
Singkat cerita, setelah sampai di rumah Tata menanyakan dimana Lumba. Kami pun sibuk mencari dan tidak ketemu. Ketika melihat foto di kamera, Lumba sudah tidak ada di tangan Tata saat di bandara Soekarno-Hatta. Kesimpulannya adalah Lumba ketinggalan di pesawat sewaktu turun karena agak tergesa. Raut muka Tata langsung berubah sangat sedih sampai air mata mengucur di pipinya. Saya bisa merasakan kesedihannya dalam tangisnya yang senyap. Terjadilah dialog seperti ini:
Tata (T) : “Kasihan Lumba Ma, dia nanti bagaimana”
Mama (M) :”Tenang Tata, Lumba tidak punya perasaan karena dia cuma boneka”
T : “Nanti kalau dibawa orang bagaimana Ma?”
M :”Tidak apa-apa Tata, semoga yang menemukan mempunyai anak kecil terus terus dikasihkan ke anak kecilnya itu, jadi seneng deh. Insya Alloh Lumba lebih bermanfaat buat mereka”
T :”Tapi aku sayang Lumba Ma, dia lucu banget”
M :”Iya Mama tahu perasaan Tata, nanti kalau ada di toko kita beli ya”
T :”Tapi kan bukan Lumba yang itu Ma….dari Key”
M :” Iya sih memang berbeda tapi mungkin itu bisa mengobati hati Tata yang kangen Lumba”
T :” Oke Ma”
Ternyata susah juga mencari boneka yang persis seperti Lumba yang dulu. Beberapa toko sudah saya datangi tetapi hasilnya nihil. Tata kalau pas ingat pasti masih menangis walaupun frekuensinya semakin jarang. Saya harus tegar biar gak ikut melow. Saya harus mengajarkan betapa pahitnya kehilangan tetapi kita harus ikhlas. Alhamdulillah saya bisa mengajarkan regulasi emosi secara nyata dalam peristiwa ini. Tata juga mampu melewatinya dengan baik.
Iseng saja saya menanyakan kepada Oma Key dulu beli Lumba dimana tetapi Oma Key malah memberikan surprise membelikan lagi walaupun tidak sama persis. Tata suka banget tetapi setelah itu dia menyimpannya di lemari bersama boneka yang lain. Memang sepertinya si Lumba tidak tergantikan. Ada ada saja ya anak-anak itu :-).